KEKURANGAN gizi diusia dini 0-6 tahun dapat mengakibatkan otak anak tidak berkembang optimal, fisik yang terbatas, rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit, beresiko mengalami penyakit degeneratif dan jantung koroner.

Kondisi ini beresiko permanen yang tak dapat dipulihkan kembali sehingga gizi kurang ini dikhawatirkan menyebabkan terjadinya lost generation. Jika ada anak yang mengalami hal tersebut berarti hak azasi anak tersebut telah terengut dan dicampakan karena gizi dan kesehatan merupakan hak yang harus diterima anak. Ternyata lagi-lagi peran ibulah yang dapat mencegah terjadinya lost generation.

Kekurangan gizi yang paling krusial pasca lahir terjadi pada usia dini khususnya pada usia 0-2 tahun. Pasalnya, pada masa ini selain terjadi pembesaran sel otak yang amat pesat, juga masih terjadi pembelahan sel otak untuk melanjutkan 2/3 jumlah sel otak yang telah terbentuk pada saat anak lahir. Ironinya kita masih banyak menemukan bayi 0-2 tahun yang mengalami gizi kurang. Ibu punya andil besar untuk mencegah ini terjadi.

Bayi usia 0-2 tahun mengalami pertumbuhan yang amat pesat. Bayangkan dalam 3 bulan saja sejak lahir, berat badan bayi meningkat dua kali lipat dari berat lahirnya. Pertumbuhan yang cepat inilah yang menyebabkan keperluan zat gizi per kilogram berat badan, bayi paling besar dibanding usia selanjutnya.

Sementara kondisi pencernaan bayi baru lahir belum terbentuk sempurna sehingga bayi memerlukan makanan yang dapat diserap hampir 100 persen agar alat pencernaannya tidak bekerja keras untuk mengeluarkan sisa makanan yang tidak dapat dicerna. Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik dan paling cocok bagi bayi. Komposisi ASI sangat sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi yang belum sempurna. ASI dapat memenuhi semua kebutuhan gizi anak sampai anak berumur 4-6 bulan. ASI punya peran penting bagi tumbuh kembang manusia khususnya dimasa krusial 0-24 bulan.

Belajar dari sejarah nabi, tampak dengan jelas bahwa nabi-nabi selalu disusui oleh ibunya sendiri atau ibu susuannya. Nabi Musa yang dipisahkan dari ibunya, dipertemukan Allah kembali dan disusui oleh ibunya sendiri. Nabi Muhammad mempunyai ibu susuan ketika ibu kandungnya tidak bisa memberikannya. Bukan tanpa maknalah, Allah menurunkan ayat Alquran agar ibu menyusui bayinya: ”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS, Al Baqarah, 2:233). Penyusuan yang sempurna sampai anak berumur 2 tahun. Hal ini selaras dengan proses pertambahan sel otak yang dapat dikatakan berlangsung sempurna pada usia 0-2 tahun.

Fungsi ASI begitu menakjubkan, karena ibu yang tidak mengkonsumsi Omega-3 ternyata kandungan ASI-nya mengandung Omega-3. Sampai usia 2 tahun, anak mendapat 30-40 persen sumber energi dari asam lemak dan jumlah asam lemak esensial tercukupi dari air susu ibu. James W. Anderson, seorang ahli dari Universitas Kentucky, membuktikan bahwa IQ (tingkat kecerdasan) bayi yang diberi ASI lebih tinggi 5 angka daripada bayi yang diberikan susu formula. Berdasarkan hasil penelitian ini ditetapkan bahwa ASI yang diberikan hingga 6 bulan bermanfaat bagi kecerdasan bayi, dan anak yang disusui hanya kurang dari 8 minggu tidak memberikan manfaat pada IQ.

Tuhan Maha Penyayang sehingga memberikan sesuatu sesuai keperluan makhluknya. Air Susu setiap makhluk mamalia disesuaikan dengan kebutuhan bayi mamalia tersebut. 50 persen susu ikan paus terdiri dari lemak untuk menjamin keperluan energinya karena tinggal di air dingin. Susu kelinci mengandung protein sangat tinggi karena bayi kelinci hanya menyusu sekali sehari. Hal itu berbeda dengan bayi manusia yang menyusu setiap saat sehingga proteinnya relatif rendah hanya 19 persen.

Susu sapi mengandung kalsium 4 kali lebih besar dibanding ASI. Ketika lahir anak sapi bisa berdiri sedangkan anak manusia tidak. Keeperluan mineral sapi lebih tinggi untuk pertumbuhannya. Sebaliknya manusia memiliki karakteristik pertumbuhan dan pencernaan yang berbeda dengan hewan sehingga kandungan ASI-lah zat gizi yang paling tepat dan cocok untuk anak manusia. Kandungan gizi lebih rendah tapi daya cernanya tinggi. Ketika ibu menggantikan ASI dengan susu sapi maka yang terjadi adalah ginjal akan bekerja keras untuk membuang kelebihan zat gizi yang tidak bisa diserap. Hal ini nampak dari pipis dan berak pada bayi yang diberi susu formula nyata lebih bau dengan frekwensi lebih sering

Berbagai hasil penelitian dari waktu ke waktu memperkuat tak ada satu makananpun di dunia ini yang dapat menandingi kelebihan ASI. Kandungan protein ASI lebih rendah dibanding susu sapi namun mencukupi keperluan bayi. Jenis protein ASI mudah dicerna sehingga tidak menjadi beban bagi ginjal bayi yang belum sempurna. Rasio whey/protein pada ASI 60/40 sedangkan pada Susu Sapi 20/30.

Rasio protein ASI ini menguntungkan bagi bayi karena whey protein lebih mudah dicerna. Kandungan karbohidrat yang relatif tinggi dalam ASI terutama laktosa diperlukan untuk pertumbuhan sistem syaraf selain itu diperlukan juga untuk absorbsi protein dan pertumbuhan bakteri usus. Laktosa melalui proses fermentasi akan diubah menjadi asam laktat. Suasana asam dalam usus bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri patogen sebaliknya memacu pertumbuhan mikrorganisme yang berperan dalam sisntesis vitamin B-Kompleks. Kondisi inilah yang menyebabkab Tuhan menitipkan ASI kepada setiap ibu hamil.

Selain itu ASI mengandung Zn yang tidak saja diperlukan untuk tumbuh kembang otak tapi juga berfungsi sebagai zat imun dan merupakan unsur dari lebih 200 enzim penting Kandungan zat imun dan Zn ini melimpah pada kolostrum atau susu yang pertama kali keluar.

Kandungan Zn ASI dapat mencapai 20 mg per liter. Gangguan yang disebabkan oleh bakteri Pneumococcus dan dikenal sebagai pneumonia berhasil dengan mudah dihentikan oleh ASI. Di banyak negara ditemukan bahwa pemberian susu formula terkait dengan tingkat kematian bayi akibat diare.

ASI juga mampu menumbuhkan ikatan emosional kasih sayang antara ibu dan bayi. Melalui pemberian ASI kelekatan ibu dan anak semakin erat dan jalinan ini akan melekat terus sampai anak dewasa. Beberapa ahli anak menyebutkan tingginya kasus-kasus kenakalan remaja dan penggunaan narkoba juga terkait dengan rendahnya kelekatan ibu dan anak yang dimulai ketika anak tidak mendapatkan ASI.

Ibu, berikanlah hak anak dengan menyusui anakmu! Bukan saja akan menyelamatkan anak dari kematian, rendahnya kecerdasan, infeksi penyakit, resiko penyakit kanker, jantung dan ginjal pada anak dimasa dewasa ternyata ASI juga memberikan manfaat penting untuk ibu. Dalam satu hadis disebutkan: Allah memberikan keutamaan pada ibu yang menyusui bayi dengan menganugerahkan ibu satu pahala pada saat anak mengisap dan satu pahala pada saat anak menelan ASI.

Luar biasa keutamaan yang diperoleh ibu selama menyusui 24 bulan bayinya! Sehari semalam ibu bisa menyusui sampai 18 kali dengan jumlah isapan dan telanan lebih dari 100 kali setiap kali menyusui. Sebaliknya jika ibu tidak memberikan ASI, ibu beresiko tinggi mengalami kanker payudara. Untuk itu, jalanilah indahnya menjadi ibu. Mari kita sama-sama meningkatkan kualitas SDM bangsa dengan memfungsikan peran kita sesungguhnya sebagai seorang ibu.***

dimuat di Riau Pos, Desember 2007